Wedding trip : Makassar – Toraja.

      Pahawang, pulau yang terletak di lampung ini adalah tempat awal gue ikut trip orang lain. Di sana gue banyak ketemu teman-teman baru, dan sahabat-sahabat baru. Saat perjalanan pulang dari pulau Pahawang gue duduk di samping salah satu teman baru yang menemani ngobrol selama perjalanan, namanya Reski Hanafi. Ada satu kalimat penting yang keluar dari mulut dia dan masih gue inget, yaitu tentang hidup dia kedepannya, yap masalah pernikahan.

   “Sekarang gue single, tapi di umur gue 30 tahun nanti, gue janji dan harus sudah nikah” ujar Reski.

        1 tahun kemudian tepatnya 3 April 2015, teman gue ini akhirnya resmi menjadi seorang suami. Gue agak takjub dan ikut senang karena keinginan dia akhirnya tercapai, memang benar kata orang kalau Jodoh itu ga kemana, tapi tentu saja harus dibarengi dengan usaha. Banyak orang yang pacaran bertahun-tahun dan sudah merencanakan ingin nikah tapi gagal, ada juga yang tidak lama pacaran tiba-tiba langsung menikah. Love is a Mystery.

        Walaupun baru 1 tahun kenal, tapi gue udah dekat dengan dia dan beberapa teman dari Pulau Pahawang, tidak jarang juga kami ngetrip bareng atau ngumpul bareng. Pernikahan Reski diadakan di Makassar. Kami semua diundang, bahkan dipilih untuk menjadi best man and bridesmaid.

       Jumat, 3 April 2015 jam 4.00 WITA akhirnya kami sampai di Makassar setelah mengalami delay pesawat yang cukup panjang. Setelah beristirahat, jam 8 kami pergi ke Mesjid tempat dilaksanakan pernikahan Reski dan Inci.

    “Saya terima nikahnya……” mungkin setiap mendengar kata ini jantung kita berdebar-debar seperti yang dirasakan juga oleh mempelai pria. “SAH” dan 1 kata inilah yang akan menghilangkan ketegangan itu. Semua tersenyum bahagia, di rumah Allah itu kami semua menjadi saksi dua anak manusia yang telah bersatu, dua anak manusia yang telah maju satu langkah untuk hidup mereka yang lebih baik. Satu lagi teman gue yang selesai melepaskan masa kelajangannya, Selamat untuk teman sekaligus sahabat, Reski Hanafi yang telah resmi menjadi seorang suami dan kelak akan menjadi seorang Ayah. Semoga pernikahan ini pertama dan terakhir untuk kalian berdua.

_5

IMG-20150403-WA0111
Roti Maros

           Yang nama-nya emang pada suka jalan, jadi gue dan yang lain juga udah merencakan jalan-jalan selama di Sulawesi Selatan ini. Setelah selesai dari akad nikah kami langsung berencana untuk pergi ke Rammang-Rammang yang ada di Maros. Sebelum menuju ke Rammang-rammang yang merupakan bebatuan Karst terbesar ke 2 di dunia ini, kami kuliner di kota Makassar, tentu saja menikmati kuliner laut yang sudah terkenal kelezatannya. Dari Makassar sampai ke dermaga Rammang-rammang dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam menggunakan mobil. Sebelum sampai di Rammang-rammang kami sempat mampir di Toko Roti Maros yang berada di Maros. Roti maros ini mempunyai tekstur yang lembut, harganya pun terjangkau tapi memang yang sangat disayangkan dari roti ini adalah tidak bisa tahan lama, walaupun roti yang kami beli fresh from oven, tapi hanya bisa bertahan 1 hari.

     Untuk mencapai desa Rammang-rammang kita akan menyusuri sungai menggunakan kapal kecil. Kami sampai di dermaga rammang-rammang ketika hari sudah gelap, dan pertualangan kami pun dimulai. Kapal yang kami gunakan sangat kecil, lebarnya hanya bisa diduduki 2 orang dewasa, dan bila tidak imbang bisa terbalik. Selama menyusuri sungai, kami hanya diterangi oleh cahaya bulan dan cahaya dari headlamp. Seru dan sangat menakjubkan, mungkin kata itu yang pas untuk perjalanan menuju ke desa rammang-rammang. Suasananya seperti di Amazon (padahal belum pernah ke sana), siluet-siluet bebatuan karst nampak indah dan gagah, bagian yang sangat membuat kami takjub ialah penampakan dari kunang-kunang, yap selama perjalanan banyak kunang-kunang menempel di batang-batang pohon sampai membuat pemandangan seperti pohon natal. Untuk kunang-kunang ini gue akui sangat indah banget karena momen seperti itu udah jarang ditemui, sangat susah untuk mengabadikan dengan lensa kamera jadi kami hanya bisa simpan kenangan itu di dalam memori dalam kepala ini.

 DSCN5614       Di Rammang-rammang kami menggunakan jasa kapal Pak Arif yang juga termasuk salah satu warga di sana, kami juga bermalam di rumah beliau. Di desa rammang-rammang hanya ada 15 KK dan mereka semua adalah bersaudara, begitu informasi yang gue dapat dari pak Arif. Rumah di sana masih sederhana, listrik menggunakan tenaga dari genset, sinyal internet-pun susah, tapi itu sisi baiknya jadi kami tidak tergoda untuk memainkan hape dan fokus untuk berbaur di dalam kehangatan rumah sederhana Pak Arif, suasana yang sudah jarang sekali kita rasakan di perkotaan. Saat bermalam di sana kami disediakan makan malam oleh pak Arif dan Istri, ikan fresh langsung dari empang miliknya. Oh iya ada satu hal, gue yakin ini info lumayan penting, walau rata-rata rumah di sana sederhana tapi toilet di sana bersih, airnya pun bening jadi bagi kalian yang repot dengan kebersihan badan tidak usah khawatir akan hal itu.

DSC_0261
Rammang – Rammang

        Sabtu 4 April 2015, pagi hari kami bangun siap untuk mengexplore keindahan Rammang-rammang. Mata kami buka, bebatuan karst menyambut kami kokoh berdiri di depan dan matahari mulai mengintip diantaranya. Walau pada saat malam gelap, tp gue bisa merasakan pemandangan pagi di sini pasti indah. Saat matahari muncul terjawab sudah apa yang gue rasakan itu. Pemandangan desa rammang-rammang indah broo, terdiri dari hamparan sawah yang luas dan empang yang dikelilingi bebatuan karst tinggi dan besar. Pak Arif menemani kami mengelilingi desa rammang-rammang. Kami berjalanan menyusuri jalan setapak, diperjalanan kami juga disambut hangat oleh warga lain yang mayoritas adalah petani. Setelah beberapa menit akhirnya kami sampai di tempat yang lebih tinggi untuk melihat keindahan tempat ini dan tentu saja mengabadikan dengan lensa kamera.

DSCN5624_1
Bebatuan Karst di Rammang-rammang
DSC_0620
Spot 1
DSC_0638
Spot 2

       Selesai mengexplore dan mengabadikan moment, kami siap untuk pulang menggunakan kapal kecil semalam. Sebelum sampai di dermaga, kami dibawa oleh pak Arif menepi di tempat yang tidak kalah menarik. Ada 2 spot yang kami kunjungi, pertama menepi di tumpukan batu besar tinggi yang lumayan tersusun rapi dan unik, sangat disayangkan akses untuk mengexplore spot ini sangat susah dan licin sehingga kami memutuskan untuk pindah ke spot yang ke dua. Di spot kedua masih sama yaitu bebatuan, hanya saja lebih kecil dan terhampar abstrak di empang. Bebatuan di sini memiliki bentuk yang abstrak tapi ada beberapa yang hampir mirip dengan suatu benda atau hewan. Tidak jauh dari spot kedua ini kami melihat tumpukan batu besar seperti di spot pertama akhirnya kami memutuskan untuk ke sana. Ada moment menyebalkan sekaligus mengasikkan, untuk menuju ke spot ini ternyata kami harus melewati sawah yang jalan setapaknya sudah hilang. Kami harus rela kaki kami bermandikan lumpur, bersusah payah untuk berjalan karena dalamnya lumpur dan harus menanjak menuuruni batu yang menghalangi. Walau begitu moment di sini cukup membuat kenangan yang menarik.

DSC_0685
Trekking Spot 3

       Sore hari kami sampai di Makassar, bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan teman kami yaitu Rizki dan Inci. Sungguh pemandangan kontras, saat siang kami bermain lumpur dan saat malam kami berpakaian esklusif. hahaha. Selesai berbagi kebahagian dengan Rizki dan Inci, kami pergi ke pantai Losari untuk menikmati suasana malam di sana sambil ditemani Pisang Epe, pisang yang dibakar dan diberi beberapa taburan untuk menambahkan rasa. Cemilan pas untuk menikmati suasana malam hari.

2015-04-05 01.37.21 1

 

        Beberapa hari di Makassar membuat saya sadar, kota ini hampir sama dengan Jakarta. Sama macetnya dan sama ramainya. Hari ke 3 kami habiskan untuk berkeliling kota Makassar, mulai dari mengantar teman yang pulang lebih dulu ke bandara, kemudian membeli tiket Bus untuk malam-nya berangkat ke Toraja, dan terakhir kami kembali ke Pantai Losari, kali ini untuk membeli beberapa oleh-oleh yang tidak jauh dari sana. Setelah itu kami pergi ke benteng Fort Rotterdam yang letaknya tidak jauh dari pantai Losari. Di benteng Ford Rotterdam banyak anak muda tanggung yang menikmati suasana sore di sana. Tidak terasa hari mulai semakin gelap dan sinar matahari sudah mulai merendah, dari benteng Rotterdam kami merasa matahari ini akan cantik sekali saat Sunset dan akhirnya kami tergesa-gesa lari ke dermaga yang berada tepat di depan Rotterdam. Sampai di pesisir pantai, kami disuguhi Sunset yang sangaat indah, mata kami dibuat takjub dengan cahaya yang membentuk lukisan alam sangat indah ini. Tidak heran Pantai Losari menjadi icon bagi kota Makassar, karena memiliki letak strategis terutama untuk menikmati suasana sunset.

DSCN5758 (1)
Sunset
        Hari semakin gelap kami bersiap-siap pergi ke Terminal Bus untuk menuju Toraja. Perjalanan ke Toraja membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam, dan bus yang menuju Toraja hanya ada 1 jadwal pemberangkatan yaitu jam 9 malam. Fasilitas bus ini cukup nyaman, kursinya tebal dan bisa dimiringkan sampai kira-kira 120°. Bus ini juga menyediakan selimut dan bantal, sehingga kita bisa nyaman tidur selama perjalanan.
Senin, 6 April 2015, jam 6 WITA, kami sampai di kota Rantepao, Toraja Utara. Untuk mengexplore Toraja utara kami hanya mempunyai waktu 12 jam, karena jam 9 malam kami harus kembali ke terminal untuk pulang menuju Makassar. Tepat jam 9 WITA kami berangkat dengan menggunakan jasa mobil rental+guide, tujuan pertama yaitu Batu Tumonga dan Lokomata/Tonga riu yang lokasinya cukup jauh dibanding lokasi lain.
DSCN5790 (1)
Lokomata

        Jam 9.20 WITA, kami sampai di Batu Tumonga. Di tempat ini kita disuguhi keindahan alam Toraja dari atas, luasnya sawah dan banyaknya Rumah Adat Khas Toraja yaitu Tongkonan menambah keindahan pemandangan alam di sana. Sangat disayangkan saat kami di sini, cuaca sedang tidak bersahabat, awan-awan tebal menutupi pemandangan dari sini. Selesai mengabadikan moment, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Lokomata yang ditempuh kira-kira 40 menit dari Batu tumonga. Lokomata adalah pemakaman yang terbuat dari batu besar yang dilubangi. Seperti yang kita tau, Toraja memang terkenal akan pemakamannya yang unik yaitu diletakkan didalam batu ataupun goa. Lokomata merupakan salah satu pemakaman yang terkenal dan sering dikunjungi, tempatnya yang dekat dengan pinggir jalan raya membuat akses ke sana sangat mudah. Puas mengexplore Lokomata, kami kembali ke kota Rantepao untuk makan siang.

       Untuk kami yang semuanya muslim sangat susah mencari makanan halal di Toraja ini, karena di sana mayoritas penduduknya adalah non muslim. Tapi ada beberapa rumah makan yang halal dengan logo spanduk bertuliskan “halal” ataupun lafal basmallah. Selesai makan siang kami kembali pergi menuju destinasi ke dua yaitu Kete Kesu yang tidak jauh dari kota.

CSC_0385
Kete Kesu

        Kete kesu adalah desa wisata yang masih kental akan adat tradisionalnya, jika kita sering melihat liputan tana toraja di televisi tempat inilah yang sering diliput. Di kete kesu kita akan melihat rumah adat khas toraja Tongkonan yang masih asli. Apabila kita melihat di tempat lain rumah adat nya beratapkan seng, sedangkan di sini masih asli seperti jerami. Oh iya entah kenapa selama di toraja saya merasa beberapa adatnya mirip dengan Sumatra barat, contohnya rumah adat toraja dan sumatera barat menyerupai kerbau, dan rumah adat tersebut juga ada yang untuk menyimpan padi sama seperti di sumbar, Sumbar dan Toraja pun mempunyai icon yang sama yaitu Kerbau tapi tentu cara pemakaman di 2 tempat itu berbeda.

DSCN5836 (1)
Pemakaman berbentuk bangunan rumah

CSC_0390CSC_0388Di dalam desa Kete Kesu terdapat pemakaman purba yang diperkirakan sudah berumur 500 tahun lebih. Pemakamannya berbentuk tebing, banyak peti-peti yang menyerupai perahu dan ada pula pemakaman mewah yang menyerupai rumah. Tulang tengkorak dan tulang-tulang tubuh pun menjadi pemandangan umum saat kita berada di sana. Sayangnya patung-patung yang dulu sangat icon sekali berada di sekeliling tebing sekarang harus bersembunyi di balik jeruji besi untuk diamankan, karena banyaknya tangan yang tidak bertanggung jawab menggambil patung-patung tersebut. Di ujung tebing terdapat goa, di dalamnya terdapat pemakaman yang berisi peti-peti mati. Setelah puas mengabadikan moment di daerah pemakaman, kami berjalan menuju parkiran mobil, tetapi sebelum sampai di parkiran hujan turun deras, kami berlari dan berteduh di rumah adat.

DSCN5838 (2)
Pemakaman Kete Kesu

        Saat kami berteduh, kami berbincang dengan seorang warga dan bapak itu bercerita kalau saat ini sedang ada upacara kematian tidak jauh dari Kete Kesu. Dengan keadaan hujan yang sedang turun dan waktu yang sudah menunjukkan sore hari, membuat kami ragu-ragu untuk datang ke upacara tersebut. Tapi setelah berfikir panjang akhirnya kami memutuskan ke sana karena ini kesempatan yang jarang terjadi.

        SCSC_0399ampai di sebuah desa tempat upacara berlangsung, kami harus berjalan kaki ke dalam karena jalan yang dilalui tidak disarankan untuk memakai mobil ditambah keadaan sedang hujan. Setelah berjalan kaki yang jaraknya cukup lumayan dan memaksa kami menggunakan daun pisang untuk menutupi kepala dari air hujan. akhirnya kami sampai di tempat upacara berlangsung. Tapi sangat disayangkan, upacara sudah selesai dilakukan, dan ini adalah hari pertama dimana upacara hari ini hanya diisi oleh penyambutan saudara-saudara almarhum dan pemotongan beberapa ekor babi. Untuk pemotongan kerbau yang biasa dinantikan berlangsung di hari ke 2. Walau begitu kami disambut hangat, kami berkumpul di sebuah gubuk yang memang dibangun khusus untuk menginap saudara-saudara jauh almarhum. Dalam upacara pemakaman suku Toraja, saudara-saudara sang almarhum akan datang semua dan di lokasi upacara dibangun gubuk-gubuk sementara untuk tempat berteduh dan beristirahat, karena upacara tersebut memakan waktu berhari-hari dan tidak ada yang boleh pulang (harus menginap di gubuk tersebut). Selama di sana lumayan banyak yang kami obrolkan, ditemani kopi dan sedikit makanan yang disajikan membuat suasana yang sedang hujan itu menjadi lebih hangat.

edit
Suasana Pesta Pemakama
CSC_0376
Peti Mati
DSCN5906 (1)
Londa

Setelah bercengkrama, kami pamit pulang. Tujuan berikutnya adalah Londa. Londa merupakan pemakaman yang terletak di dalam goa. Goa ini terletak di bawah tebing yang tinggi, untuk bisa menihat pemakaman kita membutuhkan sebuah lampu. Di sana kita akan ditawarkan jasa sewa lampu petromak. Kami menyewa 2 pertromak karena jumlah kami banyak. Sebelum memasuki goa kita akan disuguhi tumpukan peti-peti mati yang umur kematiannya belum lama, di depannya terdapat bunga belasungkawa, dan di antara peti mati tersebut terdapat sebuah kotak yang berisi patung-patung duduk layaknya melihat sebuah pertunjukan.
Londa memiliki 2 goa, goa yang pertama kami masuki ialah goa yang terletak di ujung. Goa ini lebih besar dari goa di sebelahnya. Setelah masuk ke dalam goa kita langsung disuhugi oleh pemandangan peti-peti mati, baik peti mati yang masih bagus ataupun peti yang sudah hancur karena dimakan oleh waktu. Setiap peti di sini terdapat benda yalondang disukai almarhum selama hidup, misalnya pakaian selama hidup yang dia suka, keluarga menumpuk pakaian itu di atas peti mati. Ada juga yang suka minum atau merokok banyak minuman dan rokok di atas peti mati tersebut. Hal yang unik gue temui di sini saat bertemu dengan dua pala tengkorak yang diletakkan sejajar di sudut goa, info dari guide kami, 2 tengkorang itu adalah pasangan yang selama hidupnya tidak direstui oleh orang tua nya dan memutuskan untuk bunuh diri bersama, Romeo and Juliet banget ya.

        Selesai menyusuri di goa pertama, kami pindah ke goa kedua. Goa ini lebih kecil dari yang sebelumnya, hanya 1 lokasi tanpa harus menyusuri lebih dalam. Sebenarnya ada jalan dari goa sebelumnya untuk ke goa ini, hanya saja kita harus
merangkak untuk sampai ke goa ini. Di goa kedua ini masih sama seperti sebelumnya terdapat peti-peti mati hanya saja goa ini lebih banyak tulang tengkorang di sudut-sudut dari pada goa sebelumnya.CSC_0374

        Puas menyusuri tempat wisata diToraja akhirnya kami pulang, sebelum pulang tentu saja kami berbelanja oleh-oleh. Gue sendiri hanya membeli kopi Toraja, kopi yang udah terkenal di Nusantara kita ini. Harganya jauh lebih murah dibandingkan kita beli di Cafe Coffee Jakarta.

        Selasa, 7 April 2015. Kami sampai di Makassar kembali, Hari terakhir di Makassar ini kami habiskan hanya untuk membeli oleh-oleh dan Kuliner khas Makassar yaitu Es Pisang Hijau, Mie titi dan hidangan laut lainnya. Sebetulnya kami juga ingin mencoba Konro Makassar tapi karena waktu yang sudah tidak memungkinkan akhirnya kami hanya dapat mengurungkan niat itu.

CSC_0377

        Matahari sudah mulai tenggelam, lampu-lampu mulai menghiasi seisi kota. Langkah kami akhirnya pun terhenti di bandara, menuggu dan berjalan menuju pesawat yang akan mengantarkan kami ke Jakarta. Ingin rasanya menambah waktu untuk berlibur bersama, tapi waktu pula yang memaksa kami untuk kembali ke Jakarta.

Other Photos :

2 thoughts on “Wedding trip : Makassar – Toraja.

Leave a Reply