Menjelajah Jawa Timur dan Jogjakarta Part I : Blue Fire – Kawah Ijen

Sejak akhir Juli 2015 saya berniat untuk menjelajah pulau Jawa dari ujung Timur hingga ke barat kembali ke Jakarta. Namun karena ada berita yang tidak enak yaitu meletusnya gunung raung, membuat niat saya tertahan. Akhirnya pada tanggal  29 Agustus 2015 sampai dengan 6 September 2015 saya bersama teman saya yang bernama Fier berhasil merealisasikan niat itu.

Jpeg

Dengan informasi seadanya kami berangkat dengan tujuan awal yaitu Banyuwangi. Kami memilih berangkat menggunakan jasa kereta api. Murahnya tiket dan waktu sampai tujuan yang jelas menjadi alasan kami untuk memilih mode transportasi ini. Jauhnya jarak dari Jakarta ke Banyuwangi sepertinya membuat tidak ada jadwal kereta yang langsung ke sana. Ada beberapa pilihan transit untuk sampai ke Banyuwangi, misalnya dari Jakarta ke Jogja lalu ke Banyuwangi, bisa juga dari Jakarta ke Surabaya lalu lanjut ke Banyuwangi atau bisa juga dari Jakarta menuju Malang lalu melanjutkan kembali ke Banyuwangi.

Mepetnya waktu pembelian tiket membuat kami harus memilih transit di Jogjakarta. Sebenarnya ada pilihan terbaik yaitu naik kereta api Progo yang sampai di Lempuyangan (Yogya) pukul 6.55 WIB, lalu lanjut menaiki kereta api Sri Tanjung pukul 7.15 WIB menuju Banyuwangi. Perbedaan waktu hanya 20 menit itu membuat kami ragu, mengingat kereta api kelas ekonomi selalu mengalah dengan kelas yang lebih tinggi dan sering menyebabkan kereta api ekonomi terlambat sampai di tujuan. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk membeli tiket kereta api Gaya Baru Malam dengan rute Pasar Senen (10.30) – Lempuyangan (19.22) seharga Rp 110.000 , dan kereta api Sri Tanjung dengan rute Lempuyangan (7.15) – Banyuwangi Baru (21.15) seharga Rp 100.00.

Kopi Joss (Source : citizen6.liputan6.com)
Kopi Joss (Source : citizen6.liputan6.com)

Sabtu, 29 Agustus 2015 tepat pukul 19.30 kereta api yang kami naiki sampai di Stasiun Lempuyangan, telat 8 menit dari jadwal yang tertera di tiket. Malam itu kami memutuskan untuk menikmati suasana Jogja di Angkringan Lik Man yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, kami berjalan kaki dari Stasiun Lempuyangan menuju Angkringan Lik Man. Angkringan Lik Man merupakan angkringan pertama di Jogja, dan Kopi Joss-lah yang menjadi tujuan utama saya ke tempat ini. Bagi pecinta kopi rasanya belum lengkap bila tidak menikmati Kopi Joss ini. Kopi Joss adalah kopi yang “unik”, Kenapa saya bilang “unik”? karena di dalam segelas kopi ini terdapat sebuah arang. Arang? apa tidak berbahaya? Dikutip dari Yogyes, kopi ini merupakan hasil dari penelitian Mahasiswa UGM yang kesimpulannya adalah arang tersebut berfungsi untuk menetralisir kandungan kafein dalam kopi. Puas menikmati suasana malam Jogjakarta, kami kembali ke Stasiun Lempuyangan dan memutuskan untuk bermalam di sana demi menghemat biaya.

Minggu, 30 Agustus 2015 tepat pukul 7.15 WIB dengan kereta api Sri Tanjung tujuan Banyuwangi kami berangkat. Lama perjalanan dari Jogjakarta sampai ke Banyuwangi adalah 14 jam. Dengan waktu yang sangat lama dan hanya dihabiskan dengan duduk di kereta itu menyebabkan badan kami kelelahan. Oh iya, karena saya terkadang senang menjadi tipe orang yang traveling dadakan, jadi saat itu saya baru mencari info tentang akses dan info lainnya mengenai Ijen atau baluran saat di dalam kereta api. Bahkan sudah 3/4 perjalanan saya baru mengetahui bahwa harus turun di Stasiun Karangasem yang sebelumnya saya mengasumsikan turun di Banyuwangi Baru, Hahaha.

Pukul 21:20 WIB akhirnya kami sampai di Stasiun Karangasem, Banyuwangi. Saat di stasiun Karangasem kami didekati oleh seseorang yang menawarkan jasa sewa motor. Niat awal kami yang ingin naik angkot ke Desa Licin lalu menumpang mobil penambang sampai ke Pathuding akhirnya terkalahkan oleh tawaran bapak ini. Memang kalau dipikir-pikir bila kami sewa motor biaya yang dikeluarkan akan lebih kecil dan bebas pergi kemana saja. Biaya sewa motor di sini sebesar Rp 100.000 selama 24 Jam.

Pukul 23:00 WIB kami berangkat menuju Pathuding, pos awal untuk penanjakan ke Kawah Ijen. Jalan raya menuju Pathuding sudah beraspal bagus walau kanan kiri dikelilingi hutan. Cuaca di sini sangat dingin. Selama naik motor kami berhenti beberapa kali karena tidak kuat dengan hentakan angin yang membuat badan kami menggigil. Akhirnya pukul 24.00 kami sampai di Pathuding dan langsung lari ke warung untuk menghangatkan tubuh di depan tungku api :D. Suhu saat itu saya lihat di termometer menunjuk ke angka 8°C, cukup dingin bukan?

Di Pathuding terdapat beberapa warung makan. Di sana juga tersedia beberapa alat untuk menanjak seperti masker, sarung tangan, kaos kaki dan sebagainya. Banyak pendaki transit di beberapa warung terlebih dahulu untuk mengisi tenaga, menghangatkan badan ataupun berbelanja kebutuhan menanjak.

Senin, 31 Agustus 2015 tepat pukul 1.30 WIB kami memulai pendakian menuju puncak Ijen. Walaupun malam itu hari biasa atau tidak hari libur, jumlah pengunjung Kawah Ijen cukup ramai. Wisatawan domestik dan mancanegara mempunyai jumlah yang imbang.

Malam itu cahaya bulan sedang berada pada titik yang terang. Mata kami masih bisa melihat cukup jelas walau tanpa alat bantu cahaya seperti senter atau-pun headlamp. Selama 15 menit pertama tidak banyak hambatan yang kami hadapi. Kemiringan masih cenderung datar dengan debu pasir yang mulai terangkat akibat banyaknya pendaki. Namun kesenangan itu hanya beberapa saat, kami langsung dihadapi oleh kemiringan yang cukup drastis yaitu hampir 45°. Pendakian ini kami jalani dengan santai. Selama perjalanan kami sering berpapasan atau berdampingan dengan para penambang. Lebarnya jalur pendakian memudahkan kami untuk mengobrol selama perjalanan. Tidak hanya dengan Fier, saya juga berkenalan dengan beberapa pendaki lain. Sedikit berbincang dan bercanda membantu saya melupakan rasa lelah sesaat. Walau jarak ke puncak masih jauh, bau belerang sudah mulai terasa di hidung. Kami mulai membasahkan masker, menutup mulut dan hidung agar bisa bernafas dengan baik.

Satu jam telah berlalu, pendakian dengan kemiringan 45° ini tak kunjung usai juga. Tidak banyak jalur mendatar untuk bisa berjalan santai. Debu yang terbang dan bau belerang yang menyengat cukup mengganggu pernafasan kami saat mendaki.

Selang beberapa menit, akhirnya kami diberi ruang untuk bernafas dengan santai. Kami sampai di pos 1 untuk beristirahat. Di pos ini terdapat beberapa tempat duduk, warung dan toilet. Namun sangat disayangkan warung tersebut tidak buka, mungkin karena hari yang sudah larut. Setelah istirahat beberapa menit akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kembali.

Gunung Raung
Gunung Raung

Pendakian masih didominasi dengan kemiringan yang tinggi. Setelah pendakian selama 1 Jam 15 menit dari pintu gerbang, tepatnya pukul 2:45 WIB akhirnya kami diberikan keringanan. Jalur trekking kali ini sudah mulai bersahabat karena cenderung mendatar. Pemandangan-pun sudah mulai terlihat, seperti Gunung Raung dan gunung lain yang letaknya berdekatan dengan Gunung Ijen. Kumpulan awan-pun letaknya sudah dibawah kaki kami berpijak.

Penambang
“The Real Superman”

Selama di jalur yang cenderung mendatar ini kami bertemu dengan seorang penambang. Saya di sini banyak bertanya tentang bapak tersebut. Sepenggal percakapan saya dengan beliau di bawah ini :

“Halo pak, mau ambil belerang ya?” tanya saya.

“Iya nih, mas” jawab bapak tersebut sambil menjinjing keranjang yang digunakan untuk membawa belerang

“Kalau ambil belerang itu beratnya sekali bawa berapa pak?” tanya saya kembali

“Tergantung mas, ada yang 40kg, 50kg, ada juga yang sampai 100kg” jawab si bapak.

“Wah lumayan berat juga ya pak, kalau boleh tau per-kilogram dihargai berapa pak?” tanya saya

“Rp 950/kg mas, kalau kuat naik turun 2x jadi Rp 1050/kg” jawab bapak kembali

Saat saya mengetahui bayaran yang mereka dapat, hati saya terketuk rasanya. Apa yang mereka dapat tidak sebanding dengan apa yang mereka jalani. Nyawa menjadi taruhan, energi terkuras habis, nafas terganggu bau belerang, mata perih terkena asap belerang, kaki harus melawan setiap pijakan yang dilewati, badan harus menanggung beban yang sangat berat. Namun apa yang mereka dapat? Bayaran yang besarnya hanya setara dengan segelas kopi di cafe. Sungguh ironi.

Setapak
Jalur pendakian sebelum sampai Puncak

Setelah banyak berbincang, beliau menemani kami selama perjalanan menuju Kawah Ijen. 30 menit berjalan dengan jalur yang cenderung mendatar, akhirnya kami sampai di Puncak Ijen. Walau sudah di puncak, perjalanan kami belum berakhir. Kami harus turun ke kawah untuk melihat Blue Fire dengan jarak yang dekat. Dari atas kami bisa melihat jauhnya jarak untuk sampai ke Blue Fire Point. Dengan semangat yang sudah kembali dan karena jalur yang menurun akhirnya kami langsung melanjutkan perjalanan ke bawah.

Pendaki
Para pendaki menikmati fenomena Blue Fire

Tekstur jalan untuk mencapai ke Blue Fire berbeda dengan tekstur jalan sebelumnya. Kali ini pijakan kami adalah bebatuan. Di sini kami harus berhati-hati dan pintar memilih pijakan yang kami lalui. Jika tidak, kita bisa terjatuh ke bawah atau batu tersebut bergelindingan dan membahayakan pendaki yang lain. Dengan panduan bapak penambang, kami terbantu untuk memilih jalan yang benar. Saat menurun kita juga harus mengalah dengan penambang yang akan naik membawa belerang.

Pukul 3.30 WIB akhirnya kami berhasil sampai di depan Blue Fire. Blue Fire yang banyak diperbincangkan oleh para traveler dunia karena hanya terdapat 2 di dunia yaitu di Gunung Ijen (Indonesia) dan iceland. Blue fire Ijen cukup terkenal di kalangan wisatawan mancanegara. Mereka yang ingin berlibur atau sedang berlibur di Bali biasanya akan pergi ke Kawah Ijen juga karena jarak nya yang tidak jauh dari Bali.

Blue Fire
Blue Fire Kawah Ijen

Malam itu arah angin tidak bersahabat dengan kami. Asap belerang terbang ke arah Blue Fire berada, sehingga sedikit menyulitkan para wisatawan untuk melihat fenomena langka ini. Namun di beberapa spot kami bisa melihat api dengan jelas. Turis luar negeri sangat antusias melihat Blue Fire ini, bahkan sampai ada yang nekad naik ke arah tempat yang berbahaya demi melihat Blue Fire dengan jelas. Akibat perbuatan mereka itu sang guide harus menegur karena merasa bertanggung jawab atas keselamatan mereka.

Asap Belerang menutupi pemandangan Kawah Ijen

Puas menikmati fenomena blue fire akhirnya kami memutuskan naik kembali ke puncak untuk menantikan sunrise. Saat di atas ternyata sudah banyak wisatawan lokal yang membuat api unggun untuk menghangatkan badan. Waktu terus berjalan,Ijen asap belerang dan kumpulan awan yang cukup tebal tak kunjung menghilang. Pagi itu kami tidak bisa menikmati sunrise, dan kami-pun harus pasrah dengan keadaan yang menyebabkan keindahan Kawah Ijen tak bisa terlihat.

Pukul 6:50 WIB kami memutuskan untuk turun pulang. Ketika sampai di pos 1 tempat beristirahat, ternyata di sini banyak terdapat kerajinan tangan dari para penambang. Batu belerang berwarna kuning mereka sulap menjadi kerajinan tangan yang cantik. Tidak hanya mereka ukir menyerupai bentuk, tapi mereka juga menambahkan tulisan-tulisan berwarna yang semakin membuat ukiran ini menarik untuk dibeli sebagai oleh-oleh dan menjadi pajangan di rumah.

Souvenir

Leave a Reply