From Music to Trip : Goes to Curug Leuwi Hejo

         “Tring”, terdengar suara notification dari HP. Setelah gue cek ternyata itu dari Grup Muser Jakarta. Muse adalah salah satu band favorite gue, kebetulan gue juga aktif di dalam komunitasnya, dan kelebihan dari suatu komunitas yang memiliki kesukaan sama adalah kita bisa banyak nyambung saat ngobrol ataupun bercanda, itu yang gue rasakan saat bersama mereka. Grup ini sangat aktif, ga kenal waktu pagi, siang, sore atau malam pasti ada aja yang dibahas di sana, gue sendiri kalau udah ketinggalan bahasan udah males baca lagi, ga jarang grup ini dalam 1 hari bisa tembus seribu chat.

             “Guys, weekend ini jalan yuk. Pengen nyobain ke Gunung Batu deh abis liat foto path Ganesh”, Chat dari Renaldi.

            Gue kebetulan emang sempat diajak oleh Ganesh ke Gunung Batu, tapi karena ada acara lain jadi ga bisa ikut. Setelah baca Chat dari Renaldi itu gue langsung tertarik untuk membalas dan mengiyakan ajakan Renaldi. Percakapan panjang-pun berlangsung, dimulai dari membahas yang mau ikut siapa aja, naik apa, biayanya berapa, bahkan perlengkapan apa aja yang harus disiapkan untuk ke sana. Karena hanya beberapa orang yang bisa dan mau ikut, akhirnya dibuatlah grup temporary untuk memudahkan pembahasan jalan-jalan ini. Setelah percakapan panjang akhirnya didapatkan kesimpulan, jika hari H hujan maka kami tidak jadi ke Gunung Batu karena Ganesh tidak merekomendasikan trekking dalam keadaan basah, berbahaya. Sebagai penggantinya kami akan ke Curug Leuwi Hejo.

        Sabtu, 31 Januari 2015. Sore hari akhirnya hujan lebat turun, dan kami memutuskan untuk mengubah tujuan ke Curug Leuwi Hejo. Jam 21.00 kami berkumpul di 711 Sahardjo. Gue, Eja, Renaldi datang lebih awal, disusul Ijal lalu Adit dan Feby. Ganesh yang awalnya ikut namun karena pindah tujuan maka dia ga jadi ikut dan Shabrina-pun sakit akhirnya ga bisa gabung juga. Untuk ke Curug Leuwi Hejo waktu yang ditempuh adalah 2 jam dari Jakarta (Tebet), tapi karena gue ga yakin kalau kumpul subuh, akhirnya diputuskan untuk kumpul jam 9 malam. Kami berangkat jam setengah 4 pagi, setelah lontang-lantung di”usir” dari 711 Sahardjo sampai pindah ke Famima Pejaten.

         Minggu, 1 Februari 2015 jam 03.30, akhirnya kami memutuskan jalan menuju Curug Leuwi Hejo dengan berharap bisa istirahat di Mesjid Sentul Nirwana. Ada sedikit kekhawatiran sebenarnya berangkat jam segitu, karena di Depok sedang marak pembegalan. Dengan mengumpulkan keyakinan dan keberanian akhirnya kami pergi. Untuk sampai ke sana, kami melewati jalan raya bogor, setelah jalan yang berliku-liku akhirnya kami sampai di kawasan Sentul Nirwana. Kami sampai di Mesjid Sentul Nirwana jam 4.30 berbarengan dengan Azan Subuh berkumandang. Setelah Sholat Subuh, kami istirahat sejenak dan mencuri-curi waktu untuk menutup mata yang sudah mulai lelah sambil menunggu matahari munDSCN4666_1cul, karena ada sedikit was-was kalau melanjutkan perjalanan saat gelap lagi. Jam 6.00 kami melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan kami yaitu Curug Leuwi Hejo.

         Jalan yang kami lalui sudah lumayan bagus untuk wilayah pedesaan, seluruh jalan sudah beraspal tetapi masih banyak juga jalan rusak. Saran dari gue, siapkan kendaraan dengan kondisi prima, baik motor atau mobil, pastikan kendaraan kalian kuat melawan tanjakan terjal dan bisa melalui jalan-jalan rusak.

IMG-20150201-WA0007
Trekking Menuju Curug Leuwi Hejo

         Setelah menempuh 1 jam perjalanan melewati jalur-jalur yang menantang, akhirnya kami sampai di tujuan. Oh iya sebelum sampai di tujuan, kami sempat disuguhi pemandangan pegunungan/perbukitan yang indah, kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak, istirahat sambil mengabadikan momen di sana. Tempat untuk parkir di lokasi terdapat 2 pilihan, yaitu kita bisa parkir kendaraan di depan lalu berjalan sekitar 5-10 menit sampai ke tempat penjualan tiket masuk atau kita lanjut berkendara sampai tempat penjualan tiket dengan cara menyusuri jalan setapak, tapi pilihan kedua ini ga gue rekomendasi karena jalan setapak itu lebih baik ditempuh dengan berjalan kaki, dengan kondisi jalan yang licin, bebatuan, sempit dan bersebelahan dengan jurang akan bahaya kalau kita tidak hati-hati.

       Untuk masuk ke lokasi wisata, kita dikenakan biaya sebesar Rp 10.000, murah banget ya? dengan harga tiket yang murah banget itu, gue jadi berprasangka tempat ini akan biasa aja. Setelah masuk dan sungai sudah terlihat prasangka gue pun terbantahkan, air sungainya bening sob, hijau dan banyak jeramnya. Bebatauan sungai pun menambah keelokan arus sungai tersebut. Lokasi utama Curug Leuwi Hejo ada di ujung dari sungai ini, jadi kita harus menyusuri pinggir sungai secara berlawanan dengan arus sungai.

ScreenHunter_03 Feb. 11 14.14
Jembatan Bambu

        Tantangan pertama untuk sampai ke curug ialah Jembatan Bambu. Mungkin biasa saja kalau kita mendengar jembatan dari bambu, tapi yang jadi masalah ialah bambu disini hanya ada 4 buah untuk kita berjalan dan 1 untuk kita pegang, ditambah lagi aliran arus sungai deras ada di bawah kita menambah jantung kita berdebar. Berhasil melewati jembatan bambu, kami lanjut menyusuri pinggir sungai dengan lompat dari batu satu ke batu yang lain, di sini kita juga harus berhati-hati kalau tidak kita bisa terpeleset dan masuk ke sungai, ada baiknya gunakan sendal yang tidak licin karena cukup sulit saat menyusuri pinggir sungai ini. Setelah perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya kami sampai di ujung sungai itu dan bisa melihat keindahan Curug Leuwi Hejo dengan kolam besar di depannya.

ScreenHunter_01 Feb. 12 11.18
Trekking
DSCN4711

        Curug Leuwi Hejo hanya memiliki ketinggian kurang lebih 3-5 meter, tapi yang jadi menarik perhatian kami adalah kolam besar di depan curug tersebut. Kolam itu memiliki kedalaman 6 meter dengan diameter kurang lebih 10 meter. Hujan yang sempat membasahi wilayah sekitar membuat arus curug besar dan bagi kalian yang mau ke sana, waktu terbaik adalah saat cuaca cerah, karena air akan lebih bening. Untuk mencapai kolam itu ada titik yang cukup sulit untuk dilewati karena jauhnya jarak antar batu, dan dipisahkan oleh arus jeram yang deras, kalau kita terpeleset bisa langsung jatuh ke bawah, sangat berbahaya. Kami sempat pesimis dan mengurungkan niat untuk ke kolam, gue yang berniat untuk lompat pun ragu-ragu sampai akhirnya ada orang yang pulang dan lompat dengan mudah, akhirnya gue pun memberanikan diri untuk loncat, dan yeaaah berhasil. Masalah belum selesai, ternyata teman-teman lain ga berani untuk lompat, memang sih agak riskan karena batu yang tidak rata malah condong miring ke bawah. Gue coba untuk tau kedalaman yang memisahkan batu ini, ternyata ga dalem, hanya 1 meter, tapi karena arusnya deras untuk menyebrang jadi harus punya keberanian dan hati-hati. Satu-persatu akhirnya berhasil dengan sedikit bantuan, sampai tiba di saat Adit menyebrang bener-bener menegangkan, badan dia yang kurus menyebabkan dia mudah terbawa arus ditambah lagi dia masih ga punya keberanian besar untuk menyebrang. Dengan perjuangan yang cukup rumit akhirnya Adit bisa sampai di sebrang, kami pun bergembira akhirnya bisa menikmati Curug dan bermain air di kolam depan Curug Leuwi Hejo.

DSCN4748
Curug Leuwi Hejo

DSCN4785            Arus yang sedang deras menyebabkan kami sedikit berhati-hati dalam berenang atau sekedar main air. Jika kita bisa berhasil berenang melawan arus kolam dan sampai di samping curug, kita bisa naik ke atas batu dan lompat ke dalam kolam, seharusnya ada tali yang membantu kita untuk ke Curug tapi entah kenapa saat kami ke sana tali itu tidak ada. Walau begitu kami tetap bisa bersenang-senang dan mengabadikan momen di sana. 1 Jam berlalu kami berniat kembali dan ke curug lain yang ada di sana yaitu Curug Barong, tapi karena cuaca yang kurang bersahabat kami mengurungkan niat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang, tapi karena belum puas gue, Ijal, Renaldi, dan Eja memutuskan untuk main air lagi di titik lain yang sudah dekat dengan jembatan bambu tadi. Kedalaman di sini masih bersahabat yaitu sekitar 1 meter sampai 1.5 meter, tapi walau begitu masih asik karena ada dorongan arus jeram yang kencang. Di dekat titik ini terdapat batu besar dan tinggi yang bisa kita naiki dan lompat ke bawah, tapi untuk badan yang tinggi ga direkomendasi karena rendahnya dasar permukaan air, biasanya yang loncat adalah anak kecil penduduk sana.

 

Puas bermain air dengan arus yang deras akhirnya kami membilas badan di kamar mandi yang tersedia dan lanjut ke warung duduk di bale-bale sambil menikmati secangkir kopi dan Mie Instan ditemani suara gemuruh air hujan yang jatuh ke permukaan.

Di bawah ini Video Dokumentasi Perjalanan Menuju Curug Leuwi Hejo, Enjoy 🙂

 

Leave a Reply