First Story First Experience : Pendakian Gunung Semeru

        Cerita pertama ini kebetulan pengalaman pertama gue juga, pengalaman dalam namanya mendaki ke puncak tertinggi di pulau Jawa, Yap, gue akan ceritakan perjalanan mendaki Gunung Semeru dengan puncaknya Mahameru (3676 Mdpl).

        Pengalaman ini belum lama gue jalani, yaitu tepatnya tanggal 29 Agustus – 3 September 2014. Persiapan yang gue lakukan cukup ribet, karena ini pertama kalinya gue naik gunung, perlengkapan nanjak-pun hampir semua belom punya. Mulai dari Sepatu, Jaket, Head-lamp, Matras, Sleeping Bag, Sarung Tangan, Kupuk. Tapi akhirnya untuk matras, sleeping bag, dan jaket gue putuskan untuk pinjam teman. Untuk perlengkapan nanjak gue sarankan kalau memang punya uang lebih, ada baiknya beli yang bermerek dan sudah teruji kualitasnya, karena akan terasa perbedaannya pada saat kita mendaki nanti.

        29 Agustus 2014, jam 14:30 kami berkumpul di Stasiun Senen. Rombongan kami berjumlah 18 orang. Kereta api yang kami naiki ialah Matarmaja tujuan akhir Malang, kereta api ekonomi AC dengan harga yang membuat dompet tersenyum yaitu hanya Rp 65.00, dan yang lebih menyenangkan lagi sekarang tidak ada penumpang yang berdiri.

        Tepat jam 15:15 kereta kami jalan, tapi ada kabar buruk yaitu salah satu temen kami Ardi masih belum sampai juga dan tertinggal, padahal dia hanya tinggal beberapa meter dari stasiun. Jadi untuk kalian yang ingin berpergian menggunakan kereta, lebih baik pergi dari rumah jauh sebelum jadwal keberangkatan dan kalau bisa sudah di stasiun 30 menit sebelum keberangkatan karena untuk sekarang hampir tidak ada kereta yang ngaret lagi, jangan lupa juga untuk membawa identitas diri dan terpenting jangan sampai lupa untuk surat keterangan sehat karena ini merupakan syarat untuk mendaki.

        30 Agustus 2014, jam 7:00 akhirnya kami tiba di St. Malang. Dari Stasiun Malang kami menyewa angkot untuk menuju ke Tumpang, sampai di tumpang kami istirahat, belanja kebutuhan logistik dan siap-siap untuk menuju RanuPani menggunakan Jeep.
Jam 11:30 kami berangkat dengan menggunakan 2 buah Jeep untuk menuju ke Ranu Pani. Di tengah perjalanan kita akan banyak disuguhi pemandangan alam yang indah, track yang dilalui cukup terjal mungkin kalau mobil-mobil biasa tidak kuat untuk menanjak, sekalipun kuat menanjak siap-siap saja mesin panas. Jenis motor yang digunakan warga sana pun banyak menggunakan motor jenis trail, ada juga sih beberapa masih menggunakan motor bebek, entah gimana perawatannya. Oh iya ada yang menarik selama kami menuju ke Ranu Pani, kami sempat melewati pemandangan yang super indah, akhirnya kami-pun memutuskan berhenti sebentar dan mengabadikan momen indah itu.

        Tiba di Ranu Pani (2100 Mdpl) Jam 13:00, kami langsung bergegas untuk mengurus perizinan dan istirahat-sholat-makan. Tepat Jam 14:30 pertempuran kami menggunakan kaki dimulai. Tujuan berikutnya yaitu Ranu Kumbolo, surga-nya Semeru. Jarak Ranu Pani – Ranu Kumbolo yaitu 10.5 Km dengan terbagi atas Ranu Pani (2100 Mdpl) – Landengan Dowo(2300 Mdpl) = 3 km, Landengan Dowo (2300 Mdpl) – Watu Rejeng (2350 Mdpl) = 3 km dan Watu Rejeng (2350 Mdpl) – Ranu Kumbolo (2400 Mdpl) = 4.5 km. Normal lamanya perjalanan yaitu 3-4 Jam, memutari 5 bukit kalau tidak salah, lupa juga tepatnya. Track yang dilalui lumayan asik karena cenderung landai dan menanjak sedikit-sedikit saja. Sebenarnya ada 1 jalur lagi yaitu jalur yang melewati gunung ayek-ayek, bisa menghemat waktu, akan tetapi dapat menguras tenaga karena jalurnya cukup terjal.

IMG_8680
Pemandangan Indah Saat Menuju Ranu Pani

        Walaupun jumlah rombongan kami bisa dibilang cukup banyak yaitu 18 orang, tapi selama perjalanan gue lebih sering bersama 3 orang, yaitu Ijal, Fadly dan Mirna. Rombongan ini lebih cenderung santai selama trekking, dan biasanya kami selalu di paling belakang. Oke kita balik lagi ke cerita pendakian menuju Ranu Kumbolo. Selama perjalanan menuju Ranu Kumbolo tidak banyak cerita menarik, karena kami hanya menyusuri bukit dan jalan setapak yang hanya cukup untuk 1 orang. Biasanya bila bertemu orang yang berlawanan arah, untuk yang turun harus berhenti dan memberi jalan yang naik. Pemandangan selama trekking-pun tidak banyak yang bagus, hanya beberapa titik kita bisa lihat Semeru dan awan yang sudah di bawah kita.

DSCN2058
Trekking Menuju Ranu Kumbolo
           Jam 18:30 akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo setelah jalan kaki 4 jam. Ranu Kumbolo malam itu sangat dingin suhunya 5-10°C (banyak yang bilang minus, tapi kami cek pakai pengukur suhu tidak sampai minus). Malam itu diputuskan kami bermalam dulu di Ranu Kumbolo yang rencana awalnya ialah lanjut terus sampai ke Kalimati. Momen yang ga bisa dilupakan malam itu di Ranu Kumbolo ialah saat lihat pemandangan langit. Gue sangat kagum karena banyaknya bintang yang terhampar di langit, momen yang tidak bisa dinikmati di perkotaan.
IMG-20140902-WA0045
Sunrise Ranu Kumbolo
DSCN2187
Ranu Kumbolo Negeri Di Atas Awan

        Ranu Kumbolo (2400 Mdpl), negeri di atas awan wujud keindahan alam Semeru. Sunrise di Ranu Kumbolo indah sekali, pada ingat gimana kita gambar gunung sewaktu SD, dimana matahari di antara 2 gunung tersebut? begitulah suasana sunrise di Ranu Kumbolo. Ditambah cahaya matahari tercermin di air danau benar-benar moment yang indah. Suhu yang sangat dingin lalu dihangatkan oleh sinar Matahari, kalau diingat lagi ingin rasanya setiap bangun pagi buka jendela dan melihat pemandangan seperti ini. Kami banyak mengabadikan moment di tempat ini, karena memang tempat yang cocok untuk berfoto bersama. Ada hal menarik lagi, setelah kami istirahat, sarapan dan melipat tenda untuk meneruskan perjalanan menuju Kalimati, Matahari udah di atas kepala lalu tiba-tiba awan muncul di antara 2 bukit, gue takjub dengan pemandangan ini, indah banget sob. Oh iya ada info dikit, di Ranu Kumbolo tepatnya di rumah porter ada yang jualan, jadi bagi kalian yang mau makan atau minum tenang aja karena mereka jual dan harganya masih terbilang masuk akal kok, tapi di sana ga ada toilet jadi jangan lupa bawa tisu basah yang banyak karena sejauh mata memandang itulah toilet, hahaha jangan buang air kecil atau besar ke danau ya karena itu buat persediaan kita minum.

DSCN2189
Tanjakan Cinta

        31 Agustus 2014 Jam 11:30, kami sudah siap dan jalan kaki kembali menuju Kalimati, tempat kemah kita untuk yang ke 2 sebelum menuju ke Puncak Mahameru. Jarak Ranu kumbolo sampai Kalimati 7.5 km yaitu terbagi atas Ranu Kumbolo (24000 Mdpl) – Cemoro Kandang (2500 Mdpl) = 2.5 km, Cemoro Kandanga (2400 Mdpl) – Jambangan (2500 Mdpl) = 3 km, Jambangan (2500 Mdpl) – Kalimati (2700 Mdpl) = 2 Km.

      Tanjakan cinta, tantangan pertama kami untuk menuju Kalimati dari Ranu Kumbolo. Konon katanya kalau kita menanjak tanjakan ini sambil memikirkan nama pasangan yang kita inginkan dan kita tidak menoleh ke bawah selama menanjak maka keinginan kita itu akan terwujud. Tapi namaya gue orang yang lumayan religius ya jadi ga begitu percaya sama hal mitos seperti ini. Tanjakan ini lumayan terjal, kurang lebih 50°. Setelah kita berhasil sampai puncak tanjakan cinta ini, lalu kita menengok lagi ke belakang, kita bisa melihat keindahan Ranu Kumbolo dari atas. Setelah tanjakan cinta, sekali lagi kami disuguhi pemandangan yang sangat indah yaitu yang bernama Oro-oro ombo (artinya padang rumput yang sangat luas), padang savana yang luasnya 100 hektar, kebayang dong seberapa besarnya tempat ini.Untuk ke Oro-oro Ombo ada 2 jalur, yaitu pertana melewati sisi pinggir yang menurunnya sedikit-sedikit dan satu lagi turunan yang terjal. Kami memutuskan melalui yang terjal karena ingin melewati ladang lavender. Turunan ini lebih terjal dari tanjakan cinta mungkin kurang lebih 60°, jadi hati-hati bila kalian menuruni turunan ini, kalau ga bisa tergelinding ke bawah. Entah apa nama turunan ini tapi Mirna mengarang turunan ini dengan nama Turunan Sayang, hahaha. Sesampainya di bawah kami langsung di sambut oleh ladang lavender, sangat disayangkan karena bukan musimnya jadi bunga lavender ini kering dan tidak menampakkan keindahannya.

DSCN2192
Oro-oro Ombo
        Setelah melewati Oro-oro Ombo kita sampai di Cemoro Kandang, di sini ada lagi yang bejualan dan kebetulan udaranya sejuk karena banyak pohon akhirnya kami (gue, Ijal, Fadly dan Mirna) memutuskan untuk bersantai dan tidur sebentar di Cemoro Kandang sedangkan teman-teman yang lain udah jauh meninggalkan kami.
Jam 13:30 kami selesai istirahat dan melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Jalur yang kami lewati sekarang lumayan menguras tenaga karena sudah cenderung menanjak, selama perjalanan kami banyak istirahat, jadi yang sebenarnya bisa ditempuh cepat kami sampai di Kalimati jam 16:30. Oh iya sebelum sampai di Kalimati kita akan melewati sebuah tempat yang bernama Jambangan, di sini banyak bunga edelweis dan Semeru udah bisa keliatan “kegagaha”-nya.

Gunung Semeru
Gunung Semeru

        Di Kalimati kami makan seadanya karena sudah tidak banyak makanan yang kami bawa, sebagian barang kami tinggal di rumah porter (Ranu Kumbolo). Contohnya gue dan ijal cuma membawa 1 tas yang isinya perlengkapan kami berdua. Tenda yang tadinya ada 3 pun kini tinggal 1, sebagian teman lain tidur di dalam rumah porter.

       Jam 19:00 kami tidur dan berencana mulai perjalanan ke puncak jam 23:30. Karena tenda yang tadinya 3 terus disulap jadi 1 itu ngebikin kami tidur harus mepet-mepetan dan jujur gue ga bisa tidur, cuma ketiduran 1 jam mungkin.

DSCN9119
Camp di Kalimati

       Jam 23:00, kami semua bangun dan siap-siap untuk perjalanan menuju Puncak Mahameru. Karena sebelum tidur kami sudah menyiapkan apa saja yang dibawa ke Puncak maka ga banyak waktu yang kebuang. Untuk sampai Puncak kita ga disarankan membawa Carrier karena bisa berbahaya, yang terpenting harus dibawa ialah Air. gue dan ijal sharing daypack lagi, kami membawa air, camera, hp, dompet dan yang terpenting adalah madu, coklat untuk suntikan tenaga kita di atas.

       Jarak dari Kalimati (2400 Mdpl) sampai ke Puncak Mahameru (3676 Mdpl) hanya 2.7 Km yaitu Kalimati – Arcopodo = 1.2 km dan Arcopodo – Puncak = 1.5 km. Karena kemiringannya sangat tajam, waktu yang ditempuh sampai puncak normalnya 7 jam. Sedikit informasi, untuk asuransi yang ditanggung oleh pengelola hanya sampai Kalimati, jadi bagi kalian yang ingin sampai ke puncak dan apabila terjadi apa-apa mereka tidak bertanggung-jawab.

      Jam 23:30 perjalanan dimulai, beberapa ratus meter kita masih dihadapi jalan yang cenderung mendatar, setelah itu jalanan terbagi 2 jalur kiri dan kanan, jalur kiri itu melewati Arcopodo dan jalur kanan tidak. Di sini lah letak kesalahan kami, karena kami ga begitu tahu dan temen yang di depan setelah melewati jalur kiri melihat tanjakan terjal eh kami putar balik dan ambil jalur kanan, padahal kalau kami lewat jalur kiri hanya di awal aja tanjakan terjal, tapi setelah itu tantangan-nya masih bisa dibilang ringan ketimbang kita lewat yang kanan (kami tau karena pas pulang lewat jalur kiri). Di jalur kiri itu pasir padat jadi kalau kita menanjak masih enak, sedangkan kalau di jalur kanan itu jalurnya batuan kecil yang kalau kita injak butuh tenaga ekstra, 3 langkah menanjak 2 langkah turun.

        Akhirnya seDSCN2173tengah perjalanan kami lalui, satu-persatupun mulai terpisah dengan yang lain. Masalah pun mulai datang yaitu kedinginan dan ngantuk. Suhu di atas sangat dingin yaitu 5°, ditambah lagi keadaan malam dan angin terus berhembus dari bawah. Seperti biasa gue, Ijal, Fadly dan Mirna di paling belakang dan kami masih solid untuk tetap bersama. Di kelompok ini bisa dibilang gue dan Fadly yang lambat. Mirna udah terbiasa karena ini pendakian ke 4 dia di semeru,dan Ijal lumayan menguntungkan karena punya kaki panjang walau kaki dia sebenarnya lagi kurang sehat dan sering terkilir kalau turunan.

        1 September 2014, ± Jam 5:00 keadaan badan gue semakin parah. Cape, ngantuk dan kedinginan jadi satu semua, mungkin bisa dibilang gue hampir Hipotermia. Bahkan setiap berhenti dan memejamkan mata sebentar gue langsung terbawa ke alam mimpi, udah separah itu ngantuk gue. Daypack yang gue bawa akhirnya gue kasih ke Ijal, karena udah ga sanggup lagi kalau nanjak pakai daypack. Kami berhenti dan gue kedinginan parah, karena ngantuk ini ga bisa ditahan akhirnya gue tidur sebentar, sebenarnya sangat ga disaranin sih untuk berhenti lama dalam keadaan dingin gitu karena semakin membuat badan kita kedinginan.

DSCN2244

       Jam 6.00 matahari mulai muncul, kami masih setengah perjalanan, mungkin kalau nanjak normal sekitar 2 jam lagi. Semangat gue mulai hilang karena badan ini yang udah aburadul. Gue sempet nyerah beberapa kali tapi karena masih dikasih semangat, gue masih tetep berusaha. Setengah jam berlalu, satu-persatu orang dari atas turun. Gue, Fadly, Ijal masih lambat menanjak, sedangkan Mirna kami suruh untuk duluan ke atas. Teman kami yang pertama turun ialah Zul, dan kebetulan Zul bawa 2 buah trekking pole, gue akhirnya pinjam trekking pole-nya. Sebelum ketemu dengan Zul, gue dan fadly sempet tidur, jadi tenaga kami berdua sedikit terisi. Selangkah demi selangkah semangat gue mulai tumbuh lagi karena merasa terbantu dengan trekking pole.

        Jam 8:00 satu per-satu temen kami dan banyak orang mulai turun. Gue, Fadly, Ijal dan orang-orang yang masih berjuang sempet menanyakan berapa lama lagi untuk sampai ke puncak, ada yang bilang 30 menit lagi, 45 menit lagi dan ada juga yang sampai bilang 2 jam lagi sambil mengatakan udah ga aman diatas karena belerang bisa muncul kalau udah siang (Faktanya sampai Puncak tinggal ±45 menit lagi dan belerang masih aman sampai jam 10 ke atas). Gue ada sedikit saran bagi kalian yang membaca tulisan ini dan berniat untuk naik gunung. Jangan sekali-sekali mematahkan semangat orang lain yang sedang berjuang, lebih baik kalian bohong sedikit demi menyemangatkan orang. Jujur setelah gue denger itu semangat gue sedikit turun ditambah mindset gue juga masih terngiang-ngiang kata porter jam setengah 8 udah harus turun.

DSCN2258
Summit Attack
DSCN2226
Puncak Mahameru

       Setelah berjuang selangkah demi selangkah akhirnya Fadly memutuskan untuk menyerah dan ga meneruskan pendakian sampai puncak. Gue yang semangatnya udah labil akhirnya ikut menyerah dan menemani Fadly, sedangkan Ijal yang memang udah bertekat sampai atas akhirnya meneruskan perjuangannya dan sampai ke Puncak. Sayang? iya memang sangat disayangkan gue dan Fadly harus berhenti, tapi tenaga kami memang udah habis-sehabisnya. Gue ga malu untuk cerita kalau gue gagal sampai puncak, karena menurut gue inti kita mendaki bukan sampai ke Puncak, tapi selamat sampai rumah. Gue dan Fadly memutuskan tidur untuk mengisi tenaga sambil menunggu Mirna dan Ijal turun, tapi karena lama akhirnya kami turun duluan. Saat turun adalah momen yang asik karena mudah, kalau kita menanjak 7-8jam sedangkan turun hanya setengah jam, karena kaki kita merosot/meluncur seperti main sepatu roda tetapi kita harus hati-hati juga karena apabila tergelincir kita bisa terguling sampai bawah, dan justru banyak yang celaka dalam keadaan turun.

       Sampai di kalimati, kami packing dan trekking sampai ke Ranu pane, lalu naik jeep turun ke tumpang dilanjutkan sewa angkot kembali ke Stasiun. Karena kehabisan tiket kereta dari St.Malang, maka untuk option pulang yaitu ke Surabaya lalu naik kereta dari sana untuk menuju Jakarta. Teman-teman yang lain pulang sesuai rencana, sendangkan gue, Ijal, Fadly dan Mirna punya rencana baru yaitu mau menikmati suasana malang dulu 1 hari dan akan naik bis besoknya. Tapi karena sok tau kami beranggapan bis dari malang ada yang malam, maka sampai siang kami belum memikirkan tiket bis. Setelah sore baru kami pikirkan tiket bis dan barulah sadar kalau bis dari Jawa Timur ga ada yang jadwal perjalanan malam untuk ke Jakarta. Setelah berbelit-belit akhirnya kami memutuskan naik kereta ke Surabaya, bermalam di rumah orang tua Ijal dan siang-nya naik pesawat sampai ke Jakarta.

DSCN2300
Stasiun Kereta Api Malang

       Banyak pelajaran yang gue dapet dari pendakian Gunung Semeru ini, baik sikap dalam hidup kedepannya atau untuk pendakian berikutnya. Kegagalan gue sebenarnya bisa aja ga terjadi kalau gue mempersiapkan semua dengan benar. Kesalahan gue cukup banyak sebenarnya, selain itu memang gue baru pertama kali jadi belum banyak tau tentang mendaki gunung. Kesalahan pertama gue ialah kurangnya kesiapan dalam olah raga. Gue hanya lari sekali dan 1 jam, itu-pun pagi hari sebelum keberangkatan, padahal bisa dibilang gue jarang olah raga. Lalu saat mau trekking gue baru sadar banyak yang memilih pakai celana pendek, sepertinya lebih nyaman ketimbang celana panjang. Saat summit ialah kesalahan terbanyak gue, dari kurangnya tidur dan terlebih lagi masalah dalam berpakaian. Gue memakai 4 lapis pakaian yaitu kaos dalam, kaos lengan panjang, jaket berbahan polar dan jaket berbahan parasut di lapisan terluar. Sebenarnya lapisannya udah benar, tapi kaos dalam gue itu ga nyaman di badan, kaos lengan panjang gue juga udah kekecilan tapi karena takut kedinginan maka dipakai juga, lalu jaket polar yang kebetulan punya bokap gue itu kecil, lumayan bikin badan sesek (selama trekking sering gue lepas), dan Jaket berbahan parasut terluar gue juga pinjem dari Ijal dan kenapa salah? karena itu kegedeaan, ya tapi namanya gue pinjem jadi mau diapain lag. Gue akui kesalahan itu semua, biar menjadi pelajaran gue ke depan, dan gue berharap juga buat kalian para pembaca bisa memetik pelajaran walau sedikit. Oh iya ada satu lagi dan terparah yaitu sarung tangan, sarung tangan ini baru tapi gue beli yang biasa alias murah. Saat pendakian benar-benar ga berguna, sama sekali ga menghangatkan, langsung rusak. Dari sini lah gue menyarankan kalian lebih baik beli barang yang bermerek yang kualitasnya sudah terjamin walau mahal.

       Cukup segitu yang bisa gue ceritakan dari pendakian pertama gue ke Gunung Semeru, semoga kalian suka dan bisa memetik informasi atau pelajaran dari cerita ini. Di bawah ada Video dokumenter dari perjalanan kami, jangan lupa untuk ditonton, subscribe dan comment ya 🙂 .

3 thoughts on “First Story First Experience : Pendakian Gunung Semeru

  1. Puncak tertinggi di tanah jawa adalah puncak mahameru di gunung semeru dengan ketinggian 3676 meter diatas permukaan laut. Untuk menaklukkan puncak gunung semeru ini dibutuhkan keahlian mendaki gunung karena medan yang dilalui sangat berat dan menantang. Persiapan dan kelengkapan pendakian juga harus disiapkan sejak awal sebelum melakukan pendakian gunung semeru agar di tengah jalan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Leave a Reply